Pengertian Umrah

 

Umrah secara bahasa adalah berkunjung. Dan umrah secara istilah syariat adalah berziarah/mengunjungi baitullah untuk melaksanakan rangkaian ibadah umrah yaitu thawaf, sa’I, dan tahallul dengan syarat-syarat yang telah ditentukan.

 

Hukum Umrah

 

Para ulama ahli fikih berbeda pendapat mengenai hukum umrah menjadi dua pendapat,

 

  1. Wajib

 

Pendapat pertama menyebutkan bahwa umrah wajib dilakukan dan hanya sekali seumur hidup. Ini dinyatakan mazhab Syafi’i dan Hambali. Pendapat serupa juga dikemukakan Umar, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Jabir , Thawus, Atha, Sa’id Ibn Al- Musayyab, Said Ibn Jubair, Al hasan Al Bashri, Ibnu Sirin, Al Sya’bi, Masruk, Abu Burdah, Ibn Abu Musa, Al Hudri, Abdullah Ibn Syidad, Al Tsauri, Ishak, Abu Ubai, dan Daud.

 

  1. Sunnah

 

Pendapat kedua menyebutkan bahwa umrah hanya sunnah dikerjakan. Ini dinyatakan oleh mazhab Maliki, dan Abu Tsaur.

 

Setelah disebutkan sejumlah dalil bagi masing-masing pendapat, baik yang menyatakan wajib maupun sunnah, kami tidak dapat menentukan pendapat mana yang lebih unggul. Apalagi al-Hafidz Ibnu hajar menegaskan bahwa sanad semua hadis yang dikeukakan oleh kedua kalangan fukaha diatas adalah dhoif (riwyat nya tidak bisa diterima).

 

Hukum umrah berkali-kali dalam satu tahun

 

Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini menjadi dua pendapat, yaitu ;

 

  1. Makruh

 

Ini adalah pendapat Imam Malik, Syaikh Ibnu taimiyah, a-l-hasan, Ibnu Sirrin dan an-nakho’i.

 

  1. Boleh dan mustahab

 

Ini adalah pendapat jumhur ulama, yaiutu Imam Syafii, imam ahmad, Imam Atho, Imam Thowus, dan Imam Ikrimah

 

Pendapat yang lebih rojih adalah pendapat jumhur yang membolehkan umrah berkali-kali dalam satu tahun

 

Hukum umrah dalam satu perjalanan

 

Tidak disyariatkan melakukan umrah berulang-ulang dalam satu perjalanan sebgaimana ynag banyak dilakukan oleh kebanyakan kaum muslimin dengan keluar ke tan’im untuk ihram mengulang umrah. Karena hal ini tidak pernah dilakukan oleh nabi saw

 

Sebagian saudara kita yang datang dari Indonesia, karena mumpung berada di tanah suci, jadinya mereka memanfaatkan waktu tersebut untukumrah berulang kali. Umrah pertama yang wajib untuk dirinya. Umrah kedua untuk ortunya. Umrah ketiga untuk yang lainnya. Semuanya tentu saja mesti dikembalikan pada dalil. Tidak bisa seenaknya kita membuat ibadah sendiri. Jika tidak ada dalil, bagaimana mungkin dibenarkan.

 

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin ditanya, “Sebagian orang datang dari negeri yang jauh untuk melaksanakan umrah di Makkah. Mereka melaksanakan umrah, lalu bertahallul. Kemudian setelah itu mereka keluar ke Tan’im, lantas menunaikan umrah kembali. Maksudnya, dalam sekali safar melakukan melakukan beberapa kali umrah. Bagaimana hukum hal ini?”

 

Beliau rahimahullah menjawab, “Barakallahu fiik, perbuatan termasuk amalan yang dibuat-buat (tanpa ada dalil). Karena kita telah mengetahui bahwa tidak ada yang lebih semangat dalam ibadah dari Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dan para sahabat. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallamsebagaimana kita ketahui bersama ketika Fathul Makkah di akhir Ramadhan, beliau berdiam di Makkah selama 19 hari. Ketika itu beliau tidak keluar menujuTan’im untuk berihram umrah. Demikian para sahabat tidak melakukan demikian. Oleh karenanya, berkali-kali berumrah dan satu safar termasuk amalan yang mengada-ada.” [Liqo’ Al Bab Al Maftuh, 28: 121][1]

 

Dalam lanjutan fatwa tersebut, beliaurahimahullah mengatakan, “Jika engkau ingin mendapatkan ganjaran, melakukan thawaf mengelilingi Ka’bah itu lebih baik untukmu daripada engkau mesti keluar ke Tan’im. Kemudian kami juga katakan bahwa saran untuk memperbanyak thowaf tadi jika bukan pada musim haji. Jika pada musim haji, maka cukup bagimu dengan thowaf di awal. Berilah kesempatan pada yang lain untuk melakukan thowaf keliling Ka’bah. Karena kita dapati sendiri bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamdalam beberapa umrahnya tidaklah melakukan thowaf berulang kali. Beliau pun tidak keluar menuju Tan’im untuk melakukan umrah lagi. Ketika haji wada’ (haji terakhir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang beliau lakukan hanyalah thowaf manasik yaitu thowaf qudum, thowaf ifadhoh dan thowaf wada’. Kita pun mengakui bahwa kita masih kalah semangat dibanding beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Oleh karenanya kami sarankan, jangan mempersusah dirimu sendiri. Cukupkan dengan umrah pertama (sekali umrah dalam satu safar). Jika engkau ingin meninggalkan Makkah, lakukanlah thowaf wada’. Walhamdu lillah.[2]

 

Syaikh Sholih Al Munajjid berkata, “Tidaklah disunnahkan dan tidak pula termasuk petunjuk salaf mengulangi umrah dalam sekali safar baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Asalnya, satu umrah dilakukan dalam satu safar. Barangsiapa yang bersafar untuk umrah, maka tunaikanlah satu umrah dalam safar tersebut. Tidak disyari’atkan untuk mengulang beberapa umrah dalam sekali safar. Kecuali jika seseorang keluar dari Makkah untuk bersafar lantas kembali lagi ke Makkah, ketika itu baru ia bisa melakukan umrah yang lain.” [Fatawa Al Islam Sual wal Jawab no. 134276][3]

 

Jika dikatakan tidak ada dalil dalam masalah ini dan tidak pernah dicontohkan oleh para salaf, ini menunjukkan bahwa berkali-kali umrah dalam sekali safar adalah amalan yang tidak ada tuntunannya dan perbuatan yang mengada-ada tanpa ada burhan(dalil). Sehingga tentu amalan tersebut adalah amalan yang keliru. Wallahu a’lam.